Pria yang Takut Sama Segala Hal (Kecuali Kucingnya)

Hendra Wijaya, dilihat dari luar, adalah pria Tionghoa-Indonesia umur 43 tahun yang biasa-biasa saja dan baik-baik. Dia punya apartemen yang lumayan di Pantai Indah Kapuk, mobil yang sekali nyawa langsung jalan, dan koleksi tanaman hias yang—sebagian besar—masih lumayan hijau. Tapi di dalam otak Hendra, setiap hari tuh kayak nonton film bencana 24 jam nonstop, lengkap dengan narator yang berkeringat dan cuma berbisik kata “tapi.”

Setiap pilihan yang dihadapi Hendra selalu datang dengan brosur mengkilap berisi apa saja yang bisa salah.

Mau investasi di kedai kopi teman? Iya, sampai suatu hari barista yang pakai topi konyol tidak sengaja membakar mesin pemanggang kopi, inspektur kesehatan menemukan sarang tikus raja di gudang, dan Hendra kehilangan tabungan hidupnya. Makanya uangnya dia simpan di rekening tabungan dengan bunga 0,01% yang setiap hari dicek—takut-takut banknya bangkrut.

Masalah percintaan? Dia bertemu wanita cantik bernama Priya yang tertawa dengan leluconnya. Tapi dalam hitungan jam, otaknya sudah membuat presentasi PowerPoint lima belas slide tentang bagaimana Priya nantinya akan meninggalkannya untuk pria bernama Chandra yang hobi CrossFit dan punya perahu. Jadi ya sudah, Hendra memilih diam di rumah, di mana penolakan hanya datang dari kucingnya, Mochi, yang sudah menghakiminya dari atas kulkas.

Bisnis? Dia punya ide membuat aplikasi untuk mencari kaus kaki yang hilang. Keren, kan? Tapi begitu kebayang tuntutan hukum (“Aplikasi ini membuat kaus kaki satunya ikut hilang!”), server down, hingga utas Reddit yang penuh kemarahan. Akhirnya dia tidak pernah menulis satu baris kode pun.

Jadilah Hendra seorang penikmat “jalan dengan risiko paling kecil.” Bahasa kerennya: dia tidak melakukan hal berarti apa pun selama lima belas tahun. Setiap berita buruk sekecil apa pun—saham turun sedikit, teman cerai, ramalan cuaca yang agak mengkhawatirkan—langsung membuat detak jantungnya naik sampai tiga digit. Dia akan kalang-kabut merapikan laci kaus kaki atau menyusun ulang rak bumbu berdasarkan warna (kecap manis di kiri, sambal di kanan), karena kekacauan jangka pendek memberinya rasa kontrol yang kecil dan menyedihkan.

Proyek jangka panjang? Ah, lucu banget. Dia pernah mencoba menanam tomat dari biji. Hari ketiga, dia membaca tentang penyakit busuk tomat. Langsung dia mencabut seluruh tanamannya sambil menangis-nangis di atas karung kompos organik, sementara Mochi menonton seperti perwakilan HRD yang berbulu.

Suatu Kamis, setelah email kantor sepele (“Jadwal review kuartalanmu diubah”) memicu serangan panik dua jam yang membuatnya bergelung di lantai dapur sambil Mochi melotot dengan ekspresi yang persis seperti mendiang neneknya dulu—“Kamu ini kenapa sih, Nak?”—Hendra akhirnya mengaku kalah. Dia mencari di Google “cara menghentikan otakku dari meledak” dan mendaftar retret meditasi akhir pekan bernama “Diam dan Waras (Diamnya Paling Banyak).”

Retretnya diadakan di lumbung yang sudah diubah menjadi tempat meditasi di Puncak. Baunya lavender campur emosi orang lain yang dipendam. Mentor-nya, seorang wanita gundul bernama Sari yang memakai pakaian serba krem seperti itu adalah kepribadiannya, memiliki suara yang begitu tenang sampai membuat Hendra ingin berteriak.

“Duduk saja,” kata Sari. “Rasakan perasaannya. Jangan dilawan. Pahami bentuknya.”

Hendra duduk. Satu jam pertama, otaknya seperti balita hiperaktif yang habis makan gula jawa. Bagaimana kalau atapnya rubuh? Bagaimana kalau aku lupa cara bernapas? Bagaimana kalau Mochi sedang merencanakan sesuatu di belakangku? (Yang terakhir itu agak masuk akal sih.)

Jam kedua, dia ingin kabur. Kakinya sudah pada kebas, dan rasa cemasnya berubah menjadi gumpalan berminyak di dada. Dia ingat semua pilihan buruk yang tidak pernah dia ambil. Kedai kopi itu. Priya. Aplikasi kaus kaki. Tomat.

Bangun saja, desis otaknya. Cek ponselmu. Atur ulang bantal-bantal di lumbung ini. Makan kerupuk. Lakukan sesuatu!

Tapi dia bertahan. Dia menatap perasaan itu. Dan tiba-tiba, seperti pesulap yang mengeluarkan kelinci berkeringat dari topi, dia menyadarinya.

Dia itu terlalu bergantung. Bukan ke orang—tapi ke kondisi. Dia butuh uang agar aman. Dia butuh gengsi agar pasti. Dia butuh performa yang sempurna. Tapi semua itu seperti berusaha memegang asap. Pasar bisa hancur. Orang bisa pergi. Tomat bisa terkena busuk.

Lalu, satu kenangan yang terlupakan muncul ke permukaan. Waktu dia masih tujuh belas tahun, makan mi instan di ruang tamu rumah orang tuanya di Glodok, menonton wawancara lawas Bruce Lee di YouTube. Waktu itu Bruce sedang berbicara tentang air.

“Kosongkan pikiranmu,” kata Bruce Lee, suaranya playful seperti riak air. “Bentuklah dirimu tanpa bentuk, seperti air. Jika kau tuang air ke dalam cangkir, ia menjadi cangkir. Kau tuang ke teko, ia menjadi teko. Air bisa mengalir, atau bisa menerjang. Jadilah air, kawanku.”

Dulu, Hendra mengira itu hanya kata-kata keren untuk poster. Sekarang, sambil duduk bersila di atas bantal meditasi yang kasar, kata-kata itu menghantamnya seperti dumbel yang dibungkus pelukan lembut.

Air tidak panik kalau cangkirnya retak, pikir Hendra. Air hanya masuk ke dalam retakannya saja.

Dia menyadari: menerima bukan berarti kalah. Itu malah kunci pembuka yang paling utama. Jika dia berhenti menuntut hidup menjadi trotoar yang mulus, bisa diprediksi, dan minim risiko, akhirnya dia bisa berimprovisasi. Skenario terburuk yang terjadi belum tentu menjadi akhir dari cerita. Bisa juga menjadi… plot twist. Kesempatan untuk membentuk ulang, untuk mengalir mengelilingi rintangan, untuk memberikan makna yang berbeda ke momen berikutnya.

Ketenangan menyebar di dadanya seperti wedang jahe hangat. Napasnya, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, berubah dari hamster yang panik menjadi mesin ojek yang lambat tapi pasti.

Dia membuka mata. Sari tersenyum.

“Lihat sesuatu yang menarik?” tanya Sari.

“Ya,” bisik Hendra. “Kayaknya aku selama ini berusaha menjadi tembok bata. Padahal aku seharusnya menjadi genangan air.”

Malam harinya, dia menelepon Priya. Bukan untuk melamar atau mengaku cinta. Cuma bilang, “Hei, aku selama ini orang aneh yang penuh cemas. Mau minum kopi? Kalau ternyata suasananya buruk, kita pergi saja. Kalau kamu membenciku, aku akan selamat. Mungkin.”

Priya tertawa. “Oke. Tapi kalau kamu membawa flowchart penilaian risiko, aku akan memesan pisang goreng yang paling mahal.”

Dia tidak membawa flowchart. Kopinya enak. Obrolannya lebih enak. Dan saat sampai rumah, dia membeli satu bibit tomat.

Mungkin akan terkena busuk. Tapi untuk sekarang, dia menyiramnya, melihat bibit itu condong ke arah matahari, dan berpikir: Nanti saja dipikirkan kalau sudah sampai situ.

Dan untuk seorang pria yang otaknya dulu menganggap bersin sebagai pertanda kiamat, rasanya seperti terbang.

Deepen your understanding