Seputar spiritual, meditasi dan Reiki
Seputar spiritual, meditasi dan Reiki

Call us:  +62 081 6533 777

Categories

Apa jang termasuk dalam Okkultisme. – Dunia ilmu pengetahuan dan Okkultisme. Pengamat-amatan dan pengalaman?

ORKUT KKULTISME meliputi semua ilmu jang didasarkan tenaga? gaib. Semua ilmupengetahuan dizaman purba sedikit-banjaknja bersifat gaib, dan semula dikerdjakan oleh sjarikat? rahasia, dimana anggauta’-nja dengan menggunakan kepandaian gaibnja berusaha memperkaja diri atau mempengaruhi sesama mereka. Sjarikat² paderi zaman dahulu adalah tjontohsjarikat? rahasia jang terkenal. Dalam bab pertama kita telah menundjukkan adanja paderi? India dan Mesir jang mempeladjari dan mengamalkan kearifan? purba. Kita sesungguhnja bisa menjebut berbagai sjarikat?, jang berabad-abad lamanja mempeladjari magnetisme dalam rangka okkultisme. Sering penemuan² dilapangan okkultisme ini botjor, meskipun mereka berusaha keras untuk menjimpan rahasianja, dan kemudian diselidiki oleh ilmupengetahuan resmi. Kadang2 usaha memasukkan kedalam ilmu pengetahuan resmi berlangsung dengan perdjuangan sengit. Dan ada kalanja rahasia? okkult disadjikan sebagai penemuan terbaru oleh dunia ilmupengetahuan, meskipun beribu-ribu tahun jang lalu sudah diketahui oleh orang2 jang mempeladjari Okkultisme.

Ilmu? Astrologi, Magnetisme, Rhabdonasi, Chiromansi, Grafologi, Chartomansi, Somnambulisme, Psychometri, Geomansi dan sesungguhnja djuga Spiritisme dan Tassauf.

Okkult itu meliputi:

Okkultisme dan orang? jang mempeladjari dan mengamalkannja memperhatikan semua matjam ilmupengetahuan, dan tak meremehkan ged jala djasmani dan rohani jang manapun djuga untuk did jadikan bahan penjelidikan jang seksama.

Beberapa puluh tahun jang terachir ini dunia ilmu pengetahuan bersikap simpatik terhadap gedjala? okkult, dan para sardjana ada jang sudi menjelidiki gedjala? telepati, magnetisme dan spiritisme. Mengenai magnetisme dan telepati mereka terpaksa mengakui bahwa gedjala? itu memang ada. Bidang psychometripun telah diselidiki dengan berhasil oleh para sardjana.

Gedjala spiritisme, belum ditetapkan kebenaran ilmiahnja. Akan tetapi baik djuga, apabila ada kesempatan, Anda mengikuti alasan? pro dan kontra spiritisme agar Anda bisa membentuk pendapat sendiri mengenai gedjalaspiritisme.

Para okkultis menggunakan getaran? gaib jang kita namakan magnetisme untuk berbagai tudjuan. Berdasarkan dalil bahwa tenaga magnetis meskipun sangat halus namun bersifat zat (benda), maka dengan tenaga ini harus bisa didjelmakan perobatan’ pada tak sadja ged jala? rohani, tapi djuga geujala djasmani atau kebendaan.

Freiherr von Reichenbach menemukan, bahwa orang jang pantjainderanja perasa sekali bisa melihat lingkaran-tjahaja (od) jang mengelilingi badan manusia. Orang mengira, bahwa lingkaran-tjahaja ini adalah getaran magnetis. Semua mahluk hidup,

bahkan djuga tumbuh-an, mengeluarkan tjahaja dan hingga bisa meninggalkan bekas pada film fotogratjaha ja ini menembus berbagai zat dan benda sefis jang diikat didepan kepala.

Hubungan antara tjahaja dan magnetisme tak selalu djelas. Tanda pertama, bahwa tenaga magnetis inipun bersifat benda (tunduk pada hukum ilmu-alam) ialah adanja sifat menarik dan menolak pada orang tertentu.

Sesungguhnja, gedjala ini ada diperbatasan antara rohani dan djasmani, dan bisa dibangkitkan dengan magnetisme. Kesan-menolak atau menarik dari seseorang mungkin berdasarkan penggunaan pengaruh magnetis otak. Orang lain tak bisa melawan pengaruh ini dan merasa bahwa ia tertarik atau tertolak, padahal dalam bidang djasmani tak ada gedjala sematjam itu.

Ada pertjobaan? jang menarik sekali, dimana terbukti adanja pengaruh tenaga magnetis ini. Marilah kita mulai dengan peristiwa Nona Abbot. Ia mengadakan pertundjukan?, dimana tak ada orang lain jang bisa menjentuh dia tanpa izinnja. Orang? jang betapapun kuatnja boleh naik kepanggung untuk mengudji sifat wanita jang aneh itu. Se-olah? mereka itu mendapat kesan kuat sekali jang tak memungkinkan mereka menghampiri wanita tsb., sampai pada djarak kurang dari satu meter. Hal gematjam inipun terdjadi pada seorang pendjahit wanita Perantjis, jang setjara manasuka bisa menarik dan menolak. Keterangan ilmiah mengenai gedjala? ini hanja mungkin dengan menerima teori bahwa memang ada getaran? gaib jang belum dikenal. Dan iniialah okkultis? dan fakirIndia, magnetisme.

Lebih hebat lagi jang berhasil menundukkan harimau dengan mata mereka.

Kita akan mentjeritakan sedikit tentang eksperimen’ fakir ini supaja Anda bisa mendapat kesan bagaimana tenaga magnetis digunakan oleh kaum okkultis. Bukanlah maksud kita untuk menerangkan eksperimenini dan memberikan latihan? jang diperlukan untuk memperoleh tenaga magnetis jang sangat kuat ini. Hasil? luarbiasa demikian itu hanja bisa diperoleh setelah mengadakan studi bertahuntahun lamanja, sambil melakukan latihan sangat berat.

* Tak banjak orang jang bisa memperoleh ketjakapan? ini, karena tak memenuhi sjarat? maha berat, dan djuga karena ahli2 dalam okkultisme tak mau membuka semua rahasianja. Tak semua orang dibolehkan berkenalan dengan tenaga? ini, karena tak semua orang sedemikian tinggi kesusilaannja, sehingga mereka tak akan menggunakannja untuk hal? jang kurang * baik (djahat).

Kaum Brahmana di India sedjak beribu² tahun jang lalu mengadjarkan dan mengamalkan ilmuº gaib ini. Pegawai pemerintah bangsa Perantjis Jacolliot mengkisahkan dalam tulisan²-nja beberapa pengalaman dgn. Brahmana?, chususnja dgn. seorang paderi kurus-kering jang kelihatan tulang-nja, dan lebih menjerupai tengkorak daripada manusia hidup. Semua benda? jang dipakai untuk eksperimen2-nja berasal dari Jacolliot, supaja tak mungkin ia menggunakan tipumuslihat litjin, dengan mempersiapkan lebih dulu benda² itu, dan laina-nja. Pegawai Perantjis itu meletakkan benda jang beratnja 80 kilo diatas timbangan neratja sebelah kiri. Paderi itu memusatkan pikirannja sebentar, dan timbangan sebelah kanan turun tjepat kebawah.

Prof. Kellar telah berkeliling di India selama limabelas tahun. Ia mentjeritakan peristiwa sebagai berikut:

Pada musim dingin tahun 1873 diadakan suatu pesta-rakjat di Kalkuta, untuk menghormati Putera Mahkota Inggeris. Pertjobaan’ jang akan dikisahkan dibawah ini disaksikan oleh Putera Mahkota dan limapuluh ribu penonton.

Setelah memberi hormat kepada Putera Mahkota, seorang fakir tua menantjapkan tiga pedang dengan pegangannja kebawah, udjung? pedang? itu runtjing dan tadjam. Seorang fakir muda dengan djenggot bertjabang dua, tampil kedepan dan atas isjarat fakir tua ia berbaring terlentang ditanah, deagan lengan diselondjorkan dan mata dipedjamkan. Setelah ‘fakir tua mengadakan insjarat-magnetis, maka fakir muda ini mendjadi kaku-kedjang, seolah² tak bernjawa. Kemudian tampillah seorang fakir lainnja, memegangi kaki fakir muda dan sementara fakir tua itu memegangi kepalanja, maka kedua fakir itu mengangkat fakir muda dan meletakkannja diatas udjung? pedang, akan tetapi jang demikian itu tak mengakibatkan luka sedikitpun pada ,,kurban” tsb. Udjung jang satu mengenai leher, udjung kedua mengenai tempat diantara kedua bahu dan jang ketiga pada tulang belakang udjung paling bawah. kaki tak disangga dengan apapun djuga. Tubuh tak miring kekiri atau kekanan, akan tetapi terajunajun sedikit dengan gerak? berirama.

Kemudian fakir tua itu mengambil pisau, dengan mana ia melenjapkan tanah jang ada disekeliling pegangan pedang jang pertama. Ia mentjabut pedang itu dari dalam tanah dan memasukkannja lagi kedalam sarungnja, tanpa mengusik posisi badan fakir muda itu. Kemudian, pedang jang kedua dan ketiga disingkirkan, dan dengan dilihat oleh matakepala beribu-ribu penonton, pada siang hari terang-benderang, tubuh itu melajang-lajang, kira² setengah meter diatas tanah.

Fakir tua itu lalu memanggil pembantu’-nja. Mereka memegangi tubuh jang melajang tsb., dan meletakkannja kembali ditanah. Setelah fakir tua mengadakan isjarat?-magnetis beberapa kali, maka fakir muda itu bangkit berdiri, dalam keadaan sama seperti sebelum diadakan eksperimen.

Demikianlah kisah Prof. Kellar.

Adalah kenjataan jg. sudah dikenal umum, bahwa fakir itu bisa membawa dirinja kedalam keadaan kedjang (kataleptis). Orang telah mengadakan pertjobaan dengan seorang fakir, jang telah mengedjangkan dirinja setjara sempurna, dengan meletakkannja kedalam lobang ditanah, jang kemudian ditutup rapat dengan semen. Selama sepuluh bulan lobang itu tertutup, ketjuali dua kali, ketika beberapa orang saksi mengundjungi ,makam” itu untuk melihat apakah ia masih ada disitu. Setelah berselang sepuluh bulan, orang itu dikeluarkan dari dalam lobang. Badannja dingin dan se-olah? mati. Hanja belakang kepalanja ada bagian (ketjil sekali) jang hangat. Denjut djantung dan nadinja tak kentara samasekali. Untuk menjadarkan kembali fakir itu – dengan menggosok-nja dan mengusap-ngusapnja dengan air panas diperlukan waktu dua .djam. Kemudian ia bangkit, berdiri, dan berdjalan meninggalkan tempat tsb.

Perkataan ,,Fakir” berasal dari bahasa Arab jang berarti „melarat”. Asal Arab ini menandakan bahwa diantara orang? Arabpun ada jang mendjadi Fakir. Fakir? Arab jang pernah berkeliling di Eropa dan mengadakan pertundjukan? disana, sama masjhurnja dengan rekan²-nja dari India. Ada beberapa orang Eropa jang mentjoba mempeladjari dan menguasai ketjakapan mereka itu, dan belum lama berselang ada orang Ustria jang mengadakan pertundjukan dikota-kota di Eropa, dimana ia membuktikan bahwa badannja tiada rasa ‘sakit. Ia mengedjangkan lengannja, dan ditodjoslah lengan itu dengan djarum, lebih dari satu sentimeter dalamnja. Djarum ditjabut akan tetapi setelah lengan itu dikembalikan pada posisi semula, lukanja lenjap, tak kelihatan. Tak ada nampak bekas? darah.

Fakir? Arab lebih hebat lagi ketika mempertundjukkan tiadanja rasa pada tubuhnja. Soliman ben Aissa, jang terkenal djuga dengan djulukan Si Kebal, telah mengadakan pertjobaan? luarbiasa. Ia berasal dari keluarga ulama, jang dalam abad ke enambelas dikepalai oleh seorang sjaikh bernama Mohammad ben Aissa, jang selainnja seorang ulama, djuga seorang tabib ulung. Keturunan dan penganut? ulama ini terus mempeladjari dan memahirkan diri dalam ketjakapan? Fakir.

Soliman mengadakan pertundjukan? disemua ibukota negara di Eropa. Ia diiringi oleh isterinja jang tjantik beserta seorang sekretaris, dan ia membolehkan badannja diperiksa setjara ilmiah oleh ahli?

Soliman berbitjara bahasa Perantjis lantjar, orangnja sopan dan beradab, tak ada bedanja dengan orang? biasa. Hanja matanja tjekung, dan bidjimatanja agak menondjol sedikit. Ini adalah gedjala badani jang biasa terdapat pada pertapa? atau orang? jang menuntut kehidupan rohani berat. Pertundjukan-nja selalu didahului oleh doa sambil memanggil nama pendiri sektenja, Sjaikh Mohamad ben Aissa. Kemudian mulailah ia mempersiapkan pertudjukannja dengan meletakkan dupa jang bernjala diatas pentas. Kemudian Fakir Soliman menaburkan kemenjan kedalam api. Ia menghirup asapnja sedalamdalamnja, sambil mengusap keningnja dengan tangannja. Kemudian ia menggerak-gerakkan badannja, jang biasa dilakukan oleh derwisj? jang menari.

Sekonjong-konjong fakir itu menutupi mukanja dengan tangan. Tangan ini diturunkan per-lahan, dan ia mendjadi lali (badan tak merasa apa?). Apa jang dilakukan Soliman dengan tangan serta kakinja hampir tak bisa dilihat oleh para penonton, karena ngerinja. Ia tetap sadar, berbitjara djelas’, dan berulang? memberi peringatan, supaja para penonton djangan djatuh pingsan dan djangan pula kuatir. Permulaan pertjobaan? sederhana sekali. Ia menusuki beberapa bagian badannja (a.l. pipinja) dengan djarum. Tak ada darah mengalir, ketjuali djika ia menghendakinja.

Pertjobaan? ini disusul dengan pertjobaan? jang mangkin luarbiasa. Soliman dengan susahpajah menusukkan djarum kedalam telinganja pada bagian jang keras, dan djuga kedalam pangkal-tenggorokannja. Ketika djarum? besar itu ditariknja keluar, tiada bekas apa². Fakir itu mengusap sebentar tempat? jang baru ditusuk, dan semuanja mendjadi beres kembali. Pertjobaan ketiga ialah menusuk lidah dengan pisau silet tadjam, jang dimasukkannja sambil memutar-mutarnja.

Pertjobaan selandjutnja sangat mengerikan, chususnja bagi kaum wanita. Soliman mengambil sebilah pisaubelati, memegangnja didepan salah suatu matanja, dan kemudian dengan pisaubelati ini ditjukillah bidjimatanja. Bidjimata ini dipeganginja dengan djari? didepan lobang mata. Penonton melihat otot dan sjaraf matanja mendjulur kebelakang. Tak lama kemudian, fakir itu memasukkannja kedalam Jobang lagi, jang lalu diusapnja dengan tangan, dan mendjadi sehat lagi.

Dikatakan orang, bahwa Rasul Paulus kebal terhadap gigitan ular tanah. Inipun dipertundjukkan oleh Fakir Soliman. Ia bermain-main dengan beberapa ular tanah, dan salah satu diantaranja menggigit tangannja. Setelah diusap, bagian jang digigit itu

sembuh kembali, tak meninggalkan bekas sedikitpun. Badan Soliman kebal terhadap pengaruh api. Lengannja ditaruhnja didalam njala api, namun tak luka sedikitpun.

Djuga organhalus jang ada dalam badannja bisa ditusuk, tanpa meninggalkan bekas apa?. Ia menusukkan pisaubelati atau pedang kedalam perutnja, dan perut inipun tak berhalangan apabila ditusuk dengan petjahan gelas tadjam atau diantupi kaladjengking.

Pertundjukan jang dilakukan oleh Soliman ini biasa djuga dilakukan oleh fakir2 di India.

Keadaan lali ini lenjap, apabila Soliman menghendakinja. Dalam kehidupan sehari-hari Soliman tetap perasa, dan ia mendjerit kesakitan apabila kena luka ketjil sadja.

Keadaan lalinja itu adalah semata-mata karena kekuatan kemauannja, jang berhasil menguasai sjaraf?-nja setjara sempurna. Penggunaan sjaraf? ini meliputi djuga peredaran darahnja.

Fakir India, Luchmann Dass biasa mengikatkan kakinja pada tjabang pohon, menggelantungkan badannja dengan kepala kebawah selama dua bulan. Penduduk kota tempat tinggalnja, melemparkan mata-uang dipermadani jang ada dibawah badan Fakir itu, dan apabila sudah terkumpul banjak uang disitu, maka fakir itu bangun dari keadaan taksadarnja, melepaskan ikatan kakinja, kemudian berlalu dari situ.

Apabila kita tahu, bahwa orang biasa hanja sanggup paling lama dua djam menggantungkan kepalanja kebawah, karena ia akan mati oleh beratnja tekanan darah jang masuk kedalam kepala, maka djelaslah prestasi luarbiasa dari fakir ini, jang berbulan-bulan bisa terus hidup, meskipun menggelantung dengan kepala kebawah.

Di Asiapun ada gedjala’, dimana pengaruh dan tenaga bisa digunakan dari djarak djauh. Gedjala ini dinamakan telenergia. Fakira Asia sanggup menggerakkan benda? tanpa memeganginia. Hal ini bisa kita ketahui dari keterangan? Jacolliot, jang menjatakan, bahwa ia tidak pertjaja akan apa jang dikatakan oleh fakir? itu, bahwasanja dalam hal ini ada pertolongan dari djin”. Jacolliot menganggap, bahwa jang memegang peranan dalam gedjala2 ini ialah tenaga-badan gaib, jang telah dibuktikan memang ada, akan tetapi belum diketahui darimana asalnja. Jacolliot telah mengundjungi Benares dan menginap di Istana Pangeran Mahratte.

„Disinilah”, demikian kata orang Perantjis tsb., „saja berkenalan dengan seorang fakir jang paling aneh, jang pernah saja djumpai. Asalnja dari Trivandrum, suatu kota ketjil di Selatan India. Ia ditugaskan membawa tulang belulang djenazah saudagar dari Malabar. Pangeran jang saja kundjungi djuga berasal dari Selatan, dan beliau sering memberi pertolongan penginapan kepada penziarah? jang datang dari Selatan dalam ruangan samping istananja.

Djuga fakir ini diizinkan menginap dalam salah suatu serambinja, dekat sungai Gangga, dimana ia selama duapuluh hari bermaksud menunaikan tugas? keagamaannja.

Setelah berselang empatbelas hari, maka saja berkenalan dengan dia. Namanja Govindasvami. Saja minta kepadanja supaja mengundjungi kamar saja pada siang hari, dan sajapun bertanja apakah ia memerlukan tempat chusus, dimana ia bisa melakukan pertundjukan”.

Saja menurut kehendak Tuan, djawab Fakir itu.

Untuk bisa mengawasi semua ketjakapana-nja setjara seksama, maka saja menganggap sebaiknja

ia melakukannja itu diluar, dihalaman. Ia duduk diatas tanah, dan kata saja kepadanja:

Bolehkah saja mengadjukan pertanjaan kepada Tuan?

– Ja, silakan.

– Apakah Tuan tahu bahwa kemampuan Tuan jang luarbiasa itu disebabkan oleh suatu tenaga jang ada dalam diri Tuan? Apakah Tuan merasakan ada apa? dalam lengan atau otot2 Tuan?

– Saja tidak mengerdjakan segalanja itu dengan tenaga jang ada pada saja.

Saja mendatangkan roh nenekmojang saja, dan merekalah jang membantu saja.

Saja tak mengadjukan pertanjaan² lagi, karena ia memberi djawaban? jang sama dengan apa jang diberikan oleh fakir2 lain. Ia duduk tak-bergerak, tangannja diluruskan kedepan mengarah kesebuah

djambangan besar jang dibuat dari tembaga. Dalam waktu lima menit, djambangan itu bergerak-gerak dan per-lahan sekali mendekati Fakir. Dalam pada itu, saja mendengar suara’ dari dalam djambangan, ketika benda itu bergerak, jakni se-olah’ ada orang jang memukulinja dengan tongkat besi. Se-konjong? pukulan itu tjepat bertubi-tubi. Saja bertanja kepadanja apakah saja boleh mengatur gerak-gerik djambangan dan irama pukulan’ itu. Boleh, katanja. Dan sesuai dengan keinginan saja, maka djambangan itu bergerak mundur atau madju. Atas perintah saja pukulan? itu tjepat seperti orang memukul tambur, atau lambat bagaikan suara tik-tak-tik-tak lontjeng. Saja perintahkan supaja pukulan itu dilakukan pada setiap sepuluh sekon, dan saja tjotjokkan waktunja dengan arlodji saja. Tepat.

Saja menundjuk kepada suatu gramofon jang ada dimedja saja, dan saja minta kepadanja supaja suara pukulan? dari djambangan itu seirama dengan musik jang dimainkan oleh piringan hitam. Saja memutar gramofon, tanpa mengetahui apa nama lagunja. Se-konjong2 berbunjilah suara musik wals tjepat: Robin des bois. Saja menoleh kearah djambangan, dimana saja dengan teliti dan seksama melihat djambangan itu gerak-geriknja dan suara pukulannja seirama dengan musik. Setelah selesai wals, saja putarkan lagu irama mars. Djuga sekarang gerak dan bunji pukulanpada djambangan itu mengikuti irama baru tsb.

Semuanja ini terdjadi tanpa menggunakan perkakas apapun djuga, dan djuga tanpa upatjarachusus, dan dilakukan dihalaman terbuka. Djambangan tembaga itu berat dan dalam keadaan kosong tak terpikul oleh dua orang dewasa.

Padahal ketika dilakukan pertjobaan? itu, djambangan itu berisi penuh dengan air. Air itu sesungguhnja dimaksudkan untuk mandi pagi.

Kekuatan apakah jang menggerakkan benda jang berat itu? Ber-kali? saja minta supaja ia mengulangi pertjobaan? itu, dan satu kalipun tak pernah gagal. Fakir jang ketika mengadakan pertjobaan’ itu duduk diam, lalu bangkit-berdiri, meraba tepi djambangan itu dengan djarinja, dan djambangan itu berguntjang-guntjang kekanan-kekiri. Anehnja kaki djambangan jang kadang lepas dan kadang? menjentuh tanah itu tak mengeluarkan bunji apa?, ketika menjentuh tanah. Jang sungguh mengherankan ialah bahwa air dalam djambangan itu tetap diam, tak menggelondjak-gelondjak, seolah-olah udara menekannja berat?.

Tiga kali djambangan itu membubung keatas, tetap berguntjang-guntjang, kira’ enam-tudjuh sentimeter diatas tanah. Kemudian turun lagi, tanpa mengeluarkan suara atau mengakibatkan guntjangan.

Fakir berdjandji, ketika kita berpisah, bahwa ia tiap2 hari pada djam jang sama akan ada ditempat itu, sebelum ia berangkat ke Benares. Ia menghargai pergaulan saja.

Govindasvami berdjandji pula, bahwa sebelum ia berangkat ke Selatan, akan memperlihatkan beberapa mudjizat kepada saja, jang semuanja tak akan saja lupakan.

Matahari baru terbit. Dan Govindasvami sudah ada ditempat.

Setelah kami saling memberi salam, maka iapun duduk ditanah, dan mengadakan beberapa pertjobaan. Satu kantong ketjil berisi pasir lembut ditebartebarkan diatas tanah, dan kemudian diusap dengan tangan sehingga rata, luasnja kira? limapuluh sentimeter pesegi. Kemudian ia menjilakan saja duduk didepan medja menghadap sehelai kertas dan sebuah pensil. Ia minta supaja diberi sebatang kaju dan saja memberinja tangkai-pena, jang kemudian ia letakkan dengan hati² diatas pasir tsb.

– Perhatikan apa jang akan saja katakan. Saja akan memanggil beberapa roh. Tuan akan melihat, bahwa tangkai pena ini akan bangkit dan berdiri dengan udjungnja didalam pasir. Tulislah beberapa tanda apa sadja atau boleh djuga huruf?, dikertas Tuan, dan Tuan akan melihat tanda? atau huruf? Tuan akan ditjontoh diatas pasir oleh tangkai-pena ini. Fakir meluruskan tangannja kedepan dan mengutjapkan beberapa mantera. Beberapa saat kemudian, tangkai pena itu bangkit dan berdiri. Saja membuat beberapa tanda dan huruf diatas kertas. Tangkai pena dipasir mengikuti dengan seksama gerak tangan saja dan mentjontoh gambar2 dan huruf? jang saja terakan diatas kertas. Djika tangan saja berhenti, tak bergerak, tangkai penapun berhenti, dan djika saja mulai lagi, maka tangkai pena itupun mulai bergerak pula.

Fakir duduk diam ditempatnja.

Nampaknja tak ada hubungan antara dia dan tangkai-pena itu. Akan tetapi terang bahwa ia menguasai tangkai-pena itu.

Achirnja ia menjuruh tangkai-pena itu menulis suatu perkataan jang ada dalam pikiran saja. Dengan tjara demikian ditulislah kalimat-kalimat diatas tanah. Dan sebagai penutup saja bertanja kepadanja apakah perkataan pertama jang tertjantum pada halaman 21 dalam buku njanjian jang tertutup dan terletak dibawah tangan saja. Djawabnja tepat.

Maka saja memutuskan untuk minta kepada Fakir tsb., supaja mengadakan pertjobaan dengan tenaga-tumbuh jang dipertjepatkan. Fakir itu tak berkeberatan, asal saja menjediakan tanah rajap, jakni tanah jang bekas dibuat bersarang rajap. Saja menjuruh pembantu saja mengisi djambangan bunga dengan tanah-rajap, sambil membawa pula beberapa bidji benih tanam”-an. Fakir minta kepada pemban9

tu saja itu untuk melembutkan tanah-rajap jang keras dengan menggunakan dua batu.

Tak lama kemudian pembantu saja itu kembali, dàn saja sendirilah jang menerima benda² tsb., karena saja ingin supaja ia tak berhubungan dengan Fakir. Saja lalu memberikan djambangan jang berisi tanah-rajap itu kepada Fakir. Ia membasahi tanah itu dengan menuangkan sedikit air kedalam djambangan tsb., dan kemudian mengutjapkan beberapa mantera, jang isinja tak saja pahami.

Govindasvami minta kepada saja, setelah tanahnja disiapkan seperlunja, supaja memberikan bidji? benihnja kepada saja dengan dibungkus dalam kain putih. Saja memilih bidji benih sebuah pohon tjermai dan saja berikan benih itu kepada Fakir tsb. menjentuh saja dan djambangan ini.”

Kata Govindasvami: „Berdjandjilah djangan menjentuh saja dan djambangan ini.”

Saja menjanggupi.

Ia memasukkan benih itu kedalam tanah jang sudah lumer itu, dan kemudian memasukkan tongkat-brahmananja kedalam djambangan. Kain jang saja berikan kepadanja, ditutupkan pada djambangan.

Ia duduk diatas tanah dan meluruskan lengannja kedepan diatas djambangan. Kemudian ia mendjadi kaku-kedjang.

Saja tak tahu apakah sikapnja ini hanja pura? sadja ataukah betul?, akan tetapi saja menjanggupi untuk tidak menjentuhnja. Akan tetapi setelah menjaksikan ia duduk dengan sikap demikian itu selama setengah djam, maka saja pertjaja, bahwa ia memang sungguh? kaku, karena tak ada orang betapapun kuatnja jang sanggup duduk seperti itu setengah djam lamanja, jakni dengan lengan diluruskan kedepan. Bahkan pada saat itu sudah berselang satu djam, dan Fakir itu masih diam sadja seperti tak bernjawa. Badan orang India jg. kaku dan mengkilat, jang kurus dan telandjang samasekali, ketjuali ditutup dengan sehelai tjawat, mirip dengan artja tembaga dari seorang alim jang sedang berdoa dengan chidmatnja. Saja duduk didepannja, dan bertekad untuk memperhatikan betul? apa jang terdjadi dan djangan sampai ada sesuatu jang lepas dari perhatian saja. Matanja seolah-olah terisi dengan, tenaga kuat, dan sekonjong-konjong saja merasa, bahwa semua disekeliling saja berputar-putar dan se-olah? Fakir itu menari-nari.

Segera sajapun melepaskan chajalan, jang disebabkan karena terlalu lama memandang Fakir tsb., dan sambil memandang terus kepada Fakir itu, saja menudju kedjendela, darimana saja melihat air sungan Gangga mengalir.

Baru setelah matahari hampir terbenam, terdengarlah suara mendesah. Fakir bangun. Ia memberi isjarat supaja saja mendekatinja, kemudian ia mengangkat kain jang menutupi djambangan. Diatas tanah dalam djambangan berdiri sebuah pohon tjermai jang baru tumbuh, tingginja kira2 duapuluh sentimeter. Govindasvami memasukkan djarinja kedalam tanah, jang telah mendjadi kering, dan kemudia ia mengeluarkan pohon jang masih muda itu dari dalam tanah.

Apakah itu bidji benih tadi? Saja jakin memang betul. Sebab, Fakir itu tak pernah meninggalkan halaman. Sajapun selalu mengamat-amatinja dengan teliti dan seksama. Dan ketika ia datang kepada saja, ia belum tahu pertundjukan apa jang saja minta daripadanja. Fakir itu hampir telandjang, dan tak pula mungkin bahwa dibawah tjawatnja jang sempit itu terdapat tanaman jang begitu pandjang.

Dan tak mungkin ia tahu bahwa diantara tigapuluh matjam bidji benih jang dibawa oleh pembantu

saja itu djusteru benih pohon tjermai’ itulah jang saja pilih.

– Saja sesungguhnja masih bisa melandjutkan pertundjukan ini, kata Govindasvami. Dalam waktu delapan hari pohon itu akan berbunga, dan dalam dua minggu akan berbuah.

Saja ingat akan apa jang dikatakan oleh Pater Huc, maka kata saja:

Ada ahlisihir jang bisa mendatangkan hasil jang sama dalam dua djam.

Itu tak mungkin, kata Fakir, apa jang saja pertundjukan tadi ialah dajatumbuh jang dipertjepat. Tak pernah kekuatan roh? nenekmojang dalam tempo satu hari bisa menghasilkan tiga taraf: lahir, berbunga dan berbuah! –

* Tenaga magnetisme ini hendaknja djangan didjadikan tudjuan, melainkan diperlakukan sebagai alat. Bukannja hidup ini untuk magnetis* me, akan tetapi magnetismelah untuk hidup.

Dan hendaknja pengertian magnetisme berkembang dalam diri Anda setjara lambat-laun, berangsur-angsur. Dịika terasa Anda tjenderung untuk mendjadi fanatik, hendaknja Anda berhenti membatja buku ini. Setelah lewat beberapa waktu, bolehlah membatjanja lagi. Maka akan ternjatalah, betapa masalah? jang ada dalam buku ini dalam waktu jang pendek (selama Anda beristirahat) itu diolah dan ditjerna oleh akal Anda, sehingga bisa Anda kembalikan pada ukuran? jang wadjar. Dan achirnja Anda akan merasakan: Saja tak dikuasai oleh magnetisme, akan tetapi sajalah jang menguasai magnetisme. berpisah.

Sekarang datanglah waktunja untuk Saja sungguh senang dan merasa bersjukur untuk memberitahukan satu dan lain mengenai Magnetisme Peribadi.

Sekarang saja akan minta diri, karena saja anggap kurang patut untuk minta lebih banjak waktu dan perhatian dari Anda. Saja jakin, bahwa perkenalan kita jang singkat ini Anda hargai, dan apabila penghargaan itu mendorong Anda untuk mempraktekkan apa jang diadjarkan disini setjara seksama dan sungguh?, maka saja akan sangat merasa sjukur dan berbahagia.