Seputar spiritual, meditasi dan Reiki
Seputar spiritual, meditasi dan Reiki

Call us:  +62 081 6533 777

Asal usul Ch’an

D arimanakah sumber dari Ch’an? Menurut cerita turuntemurun, rahib Bodhidharma membawa Ch’an dari India ke Cina sekitar tahun 500 SM, lebih dari seribu tahun setelah wafatnya Shakyamuni Buddha. Tetapi sejarah India hanya memuat sedikit catatan tentang periode di antara kedua peristiwa tersebut, jadi kita relatif tahu sedikit saja tentang asal-usul latihan Ch’an.

Namun kita mengenal kisah-kisah dan legenda-legenda yang menerangkan asal-usul Ch’an. Yang paling tersohor adalah cerita tentang transmisi Dharma kepada Mahakashyapa, salah seorang murid utama sang Buddha, yang menjadi Patriakh Pertama pada garis silsilah Ch’an. Ceritanya demikian: suatu hari saat berkotbah di Puncak Hering, Shakyamuni Buddha memegang sekuntum bunga di tangannya di depan sekumpulan muridnya dan beliau tidak berbicara sepatah katapun. Tampaknya tak seorangpun tahu apa arti sikap ini, tetapi kemudian Mahakashyapa tersenyum. Sang Buddha lalu berkata, “Harta-karun inti dari Dharma sejati, pikiran nirvana yang menakjubkan – hanya Mahakashyapa yang paham”. Peristiwa ini menandai awal dari garis silsilah Ch’an

dan transmisi (penerusan) guru-ke-murid yang berlanjut sampai kini. Semula cerita ini tidak dikenal di sejarah Buddhist sampai pada masa dinasti Song abad ke sepuluh. Tetapi kebenaran harafiah dari cerita tersebut tidaklah sepenting pesan yang dikandungnya tentang sifat hakekat dari Ch’an.

Shakyamuni Buddha mempunyai dua murid lain, yang satu sangat cerdas dan yang satunya lagi sangat tumpul. Murid pertama, Ananda, mempunyai daya pikir yang sangat kuat dan ingatan yang luar biasa. Akan tetapi, ia tidak pernah mencapai pencerahan (enlightenment) di semasa hidup Shakyamuni. Ananda mengira bahwa sang Buddha akan dapat menghadiahi kecerdasannya dengan pencerahan. Hal itu tidak pernah terjadi. Setelah sang Buddha wafat memasuki parinirvana, Ananda ganti berharap Mahakashyapa akan membantunya.

Setelah wafatnya sang Buddha, Mahakashyapa berusaha mengumpulkan 500 murid yang telah tercerahkan untuk menghimpun dan mencatat ajaran-ajaran sang Buddha. Ternyata ia hanya bisa menemukan 499 orang. Beberapa orang lalu mengusulkan agar ia mengundang pula Ananda, tetapi Mahakashyapa menjawab bahwa Ananda belumlah mencapai pencerahan dan karenanya tidak memenuhi syarat untuk menghadiri perhimpunan tersebut. Ia mengatakan bahwa lebih baik penyelenggaraan pertemuan itu batal saja daripada harus mengijinkan kehadiran Ananda.

Namun kemudian Ananda bersikeras ingin ikut datang. Mahakashyapa mengusirnya sampai tiga kali. Ananda berkata memohon: “Sang Buddha telah memasuki parinirvana. Sekarang hanya engkau yang dapat membantuku mencapai pencerahan!”. Mahakashyapa menjawab dengan ketus: “Aku sangat sibuk. Aku tak dapat membantu. Hanya kamulah yang bisa membantu dirimu

sendiri”. Akhirnya, Ananda menyadari bahwa ia harus bersandar penuh pada usahanya sendiri jika ia ingin mencapai pencerahan. Ia lalu pergi ke sebuah tempat yang sunyi dan menyendiri. Baru saja ia hendak duduk bermeditasi, ia mencapai pencerahan! Mengapa? Karena pada saat itu Ananda tidak lagi bersandar pada siapapun dan luruhlah semua kemelekatannya (attachments)².

Sebuah cerita lain menggambarkan seorang murid yang kurangcerdas bernama Suddhipanthaka, atau Si Jalan Kecil. Semua murid lain, kecuali Si Jalan Kecil, mampu menghapal ajaran-ajaran sang Buddha; jika dia berusaha mengingat kata pertama dari sepotong kalimat, dia lupa kata keduanya, dan sebaliknya. Sang Buddha hanya memberinya tugas menyapu pelataran, karena ia nampaknya tidak cocok untuk mengerjakan tugas lain apapun.

Setelah bekerja menyapu latar untuk masa yang amat lama, Si Jalan Kecil bertanya-tanya pada diri sendiri: “Latar ini bersih, tetapi apakah latar-pikiranku bersih?” Pada saat itulah segala sesuatunya luruh dari pikirannya. Ia pergi menemui Sang Buddha, yang sangat senang dengan pencapaiannya dan mengkonfirmasikan bahwa Si Jalan Kecil telah tercerahkan.

Cerita-cerita ini tercatat dalam naskah-naskah kuno sebagai kisah nyata, tetapi maknanya jauh melebihi konteks aslinya. Cerita pertama mengilustrasikan bahwa dalam berpraktek, pengetahuan dan kecerdasan tidaklah selalu menjamin tercapainya pencerahan,

dan cerita kedua menunjukkan bahwa bahkan seseorang yang lambat-pikirpun dapat mencapai pencerahan. Walaupun Shakyamuni Buddha, Mahakashyapa, dan Shariputra adalah orang-orang yang berpengetahuan tinggi – sebenarnya Ch’an tidak terlalu berurusan dengan pengetahuan tinggi namun lebih berhubungan dengan problem dari pikiran yang dipenuhi oleh kemelekatan. Pencerahan dapat dicapai hanya ketika pikiran seseorang bebas dari kemelekatan-kemelekatan.

*

Dikatakan bahwa ada dua puluh delapan generasi transmisi (penerusan) sejak jaman Mahakashyapa sampai jamannya Bodhidharma yang kemudian ia lalu dianggap sebagai Patriakh Pertama Ch’an Cina. Ajaran-ajarannya diteruskan lewat jalur tunggal selama lima generasi sampai masa Patriakh Keenam, Huineng (638-713). Ia mempunyai banyak murid yang kemudian mendirikan banyak cabang, sebagian di antaranya masih berdiri sampai sekarang. Penulis adalah pewaris garis silsilah Ch’an ke 62 dari Huineng dan generasi ke-57 dalam tradisi Linji (810?-866). Dalam garis silsilah Caodong, penulis adalah keturunan generasi ke-50 dari salah seorang pendirinya, Master Dongshan (807-869).

Persisnya, sebenarnya Ch’an bukanlah Buddhisme yang dibawa oleh Bodhidharma dari India, namun Bodhidharma memasukkan wawasan-wawasan tertentu ke Cina, dan tradisi Ch’an berkaitan dengan hal-hal ini. Ia mengajarkan: bahwa segala sesuatu itu berasal dari pikiran (mind), bahwa hakekat dasar dari pikiran adalah sifat-Kebuddhaan (Buddha-nature), bahwa sifatKebuddhaan itu inheren (sudah bawaan) ada pada setiap makhluk hidup; dan bahwa metode pokok untuk mencapai pemahaman sifat sejati (original nature) adalah dengan cara mengamati pikiran

itu sendiri. Ide-ide ini menjadi kontroversial ketika pertama kali dikemukakan di Cina, karena seolah-olah nampak bertentangan dengan filosofi dan latihan-latihan mazhab Buddhist lain yang lebih kompleks tetapi sesungguhnya justru inilah Buddhisme yang paling mendasar, yang telah dikupas sampai ke inti-sarinya,

Ada sebuah cerita terkenal tentang pencerahan seorang murid Bodhidharma, Huike, yang mengilustrasikan inti semangat Ch’an Bodhidharma. Huike datang menemui Bodhidharma dan berkata, “Guru, dapatkah engkau menenteramkan pikiranku?” Bodhidharma menjawab, “Serahkan pikiranmu dan aku akan me nenteramkannya untukmu!”. Huike memeriksa ke-dalam’ dan kemudian menyatakan kepada Bodhidharma bahwa ia tidak dapat menemukan pikirannya. Bodhidharma kemudian berkata, “Nah, aku telah menenteramkan pikiranmu”. Inilah cerita tentang pencerahan Huike. Kalau mengikuti kisah tersebut, kalian yang mengikuti retreat dan banyak menderita kesakitan pada kaki karena duduk meditasi lama – sepertinya tidak perlu harus susah-susah melakukan semua ini. Namun sayang, anda tidak bertemu Bodhidharma.

Categories