fbpx

Call us:  +62 081 6533 777

Akal

Akal atau akal pikiran adalah kumpulan pikiran-pikiran sadar dan pengalaman-pengalaman kita; dibawah pimpinan kemauan, akal mengendalikan perbuatan-perbuatan. Meskipun tidak menduduki tempat jang paling tinggi dalam diri manusia, namun akal mempunjai tugas jang penting sekali. Tanpa akal sadar, kita tak akan tahu keadaan dan kehidupan kita, dan kita akan serupa dengan seorang jang tidu djalan.

  • Akal adalah tenaga pengatur jang sadar. Adapun kemauan merupakan intinja

Anggapan orang tengan akal, bermatjam-matjam. Ada orang jang ingin menggunakan akalnja untuk mengumpulkan kekajaan, ada jang ingin membuat akalnja itu sematjam Gudang, jand didalamnja tersimpan pengetahuan-pengetahuan jang berfaedah dan indah-indah. Ada pula jang akalnja dibiarkan tandus tak-terpelihara, karena menggunakan akal berarti memeras otak. Ini suatu hal jang penting sekali dan anda tentunja ingin mengetahu: Bagaimana tjara sebaik-baiknja untuk menggunakan akal saja untukā€¦..(sendiri). Meskipun demikian , ini bukannja hal jang paling penting.

Jang lebih penting ialah mengetahui dahulu, apakah akal itu memang bisa dipergunakan. Pisau tumpul tak bisa dipergunakan, alat jang djelek taka da faedahnja. Apakah akal anda bagaikan pisau tadjam? Laksana alat jang bermutu? Marilah kita selidiki akal itu, sebelum digunakan sebagai ala.

Alangkah banjak orang jang beladjar, padahal akalnja lemah, rusak. Hasilnja tentu sadja mengetjewakan.

Sungguh tak bisa bisa dibenarkan untuk menggunakan akal tanpa mengetahu lebih dulu, apakah akal itu!Siapa jang mau beladjar(menggunakan akal!) sedikit banjaknja harus tahu udjud dan matjam alat jang dinamakan akal itu,dan mentjingkirkan segala tjetjat-tjetjat dan kesalahn kesalahan jang melekat kepada alat tersebut.

  • Ia harus mendjadi manusia positif jang memiliki akal jang tadjam dan positi lebih dulu, sebelum bisa menggunakan akal itu sebaik-baiknja.BArulah ia bisa beladjar, bisa memahirkan diri dalam lapangan perdagangan, politik,ilmu pengetahuan.

Tiga ratus tahun jang lalu, filsuf masjhur Spinoza menulis suatu karangan tentang hal menjempurnakan akal, dimana ia memberikan peladjaran-peladjaran bagus, jang ternyata memang benar dan jata. Salah suatu dalilnja menjatakan bawhwa dalam akal terdapat lebih banjak pikiran jang positif daripada jang negatif.

  • Udjud-hakikat pikiran adalah positif!

Spinoza mendejlaskan hal ini dengan tjara -tjara jang mudah di pahami. IU amula-mula membahasa pikiran-pikran negative jang ada dalam akal, dan menurut dia, djika kita mengenangkan pikiran-pikiran jang negative timbullah rasa enggan dan tak senang. Ini sungguh menggembirakan kata spinoza, karena dengan demikian tenjata, bahwa selalu  ada keinginan pada kita untuk melenjapkan tjetjat-tjetjat jang melekat pada akal. Mula-mula saat-saat jang terang demikian itu djarang-djarang ada, dan kalaupun ada hanja singkat. Akan tetapi setelah saja kata Spinoza, makin berpikir menurut tjara-tjara jang benar, maka saat terang inipun sering terjdadi, waktu belangsungnja mangkin lama, chususnja ini terdjadi setelah saja insjaf, bahwa mengumpulkan kekajaan, mengedjar kenikmatan dan kehormatan itu merugikan selama tidak digunakan untuk mentjapai tudjuan-tudjuan  jang lebih luhur. Sebab setelah segala sesuatu itu didjadikan alat-semata-mata (untuk mentjapa tudjuan-tudjuan jang lebih tinggi) mereka itu pun bisa dikendalikan, dan oleh karena itu tak lagi merugikan atau menewaskan.

Demikian pendapat Spinoza

Sebelum kita mentjeburkan diri dalam masyarakat,  sebelum kita mengabdi kepada ilmu pengetahuan , kita harus mengetahui tjara mentjempurnakan dan mendjernihkan akal.

Apakah jang mendjadi dasar akal? Pengalaman kah? Tidak hanja pengalaman-pengalaman sadja. Apakah akal itu hasil daripada penalaman-pengalaman, ataukah berdasarkan pengetahuan jang diwariskan turun-temurun?

Tidak! Asa daripada akal ialah sifat-mengetahu dan bukannja sifat mengatur jang serba kebetulan, melainkan pengetahuan, jang melekat pada otak berdasarkan sebab-sebab jang diakui kebenarannja. Djika diperbandingkan dengan ilmu pasti, kita bisa  mengatakan: Sebagaimana halnja dasar Gedung ilmu pasti itu ialah aksioma-aksioma(dalil jang tak terbuktikan, namu diterima oleh setiap orang), demikianlah maka akal itu berdasarkan aksioma-aksioma pengetahuan.

Pengatahuan ini sudah dimiliki oleh baji, dan djuga dimiliki oleh bangsa-bangsa jang bagaimanapun biadanja. Kenjataan ini memungkinkan kita untuk mulai menggunakan akal,dan sekali dimulai tak sukarlah untuk menjempurnakannja.

Sudah barang tentu, dalam kita sadar menggunakan dan memperbaiki akal, kita harus mulai dengan jang paling sederhana. Manusia jang masih biadab mengambil batu dan menggunakan batu itu sebagai palu. Ia memperbaiki alat itu, dan memberinja bentuk tertentu, jang paling tjotjok dengan tudjuannja. Kemudian muntjullah palu-palu dari tembaga dan badja. Dengan palu ini dibuatlah alat-alat lainnja dan lambat alun terdjadilah pesawat-pesawat jang rumit-rumit sekarang ini.

Demikian pula tjara akal membentuk dan membuat alat-alat rohani, jang mendasari perbuatan-perbuatannja. Ia mulai dengan jang sederhana dan berachir dengan jang sempurna.

Tugas apakah jang kita harus berikan kepada akal?

Mula-mula dengan akal kita bisa mengetahui tudjuan, jang mendjadi sadaran pikiran-pikiran kita, membeda-bedakan keadaan, sehingga memungkinkan kita memilih jang berfaedah dan menjingkirkan jang tak berguna.

Pikiran-pikiran jang delas terang tak mungkin salah, kata Spinoza.

Akal jang djernih dengan segera memberitahukan, pikiran-pikiran mana jang salah(positif) dan mana jang benar(negatif).

Hanja ada dua matjam pikiran-pikiran : jang positif dan jang negative dan diantara jang positif dan jang negative itu ada: kesangsian. Kita biasanja memasukan kesangsian kedalam golonga pikiran-pikiran jang salah, padahal sesungughnja kesangsiang itu bukanlah disebabkan karena kesalahan-pikiran-pikrian, melainkan kesalahan akal jang tak sanggup memberi ketertipan jang diperlukan dalam hal ini. Akal tak bisa mengikuti rantai-pikiran-pikiran jang menudju keapda tudjuan jang bersahadja. Suatu hal jang bersahadja selalu bisa kita pahami dengan akal. Karena djusteru inilah pokok kemampuan untuk memahami  jang tertanam dalam diri setiap manusia sedjak lahir. Oleh karena itu, Latihan akal bertudjuan untuk mengembalikan pengertian-pengertian jang berganda kepada pengertian-pengertian jang bersahadja, sesuai dengan pengetahuan kita. Djjika dengan Latihan-latihan jang teliti kita sudah bisa menguasai tjara ini, maka akal akan mendjadi alat tadjam jang mudah dipakai dan taka da soal jang sukar baig kita, karena kemampuan kita untuk memahami sesuatu soal akan bertambah baik.

Akal dibimbing oleh kemauan dengan ingatan. Dengan kemauan , kita bisa menjuruh akal mengasjiki pikiran-pikiran tertentu dari dalam otak, supaja mendapat perhatian akal.

Orang jang ingatannja kuat, ialah orang jang mampu memuntjulkan hal-hal tertentu jang telah diketahunja pada setiap saat jang diperlukan. Misalnja orang telah membatja tulisan nama orang. Esoknja ia ditanja menjebutkan nama itu. Ia berusaha mengingat-ingatnja, namau nama itu tidak muntjul-muntjul. Nama itu rupa-rupanja telah tenggelam kedalam bawah sadar. Inilah ingatan jang kurang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *